Menikmati Tubuh Manajer Seksi Saat Liburan

 Kisah nyata ini bermula ketika saya mengikuti test penerimaan karyawan di sebuah perusahaan di kota Mataram. Pada hari Sabtu jam 10.20 yang telah ditentukan, saya akan diinterview pada session terakhir agar lolos.


“Saudara Edy, silakan” panggil resepsionis cewek itu mengajak saya ke sebuah ruangan.

Di ruangan itu sudah duduk seorang wanita yang cantik, seperti artis mandarin yang ternyata adalah seorang Manager HRD Memakai setelan hem, dalamnya berwarna putih dan jasnya merah serta dipadu rok mini merah. Kulitnya putih bersih karena masih ada keturunan tionghoa. Saya perkirakan umurnya masih muda sekitar 26 tahunan.

“Permisi Bu ”

“Selamat pagi, silakan duduk” sapanya ramah mempersilakan saya duduk di sofa yang cuma dibatasi dengan meja kecil hingga kami saling berhadapan.

“Oh ya, kenalkan saya Fanny”
“Edy Bu” jawab saya sambil bersalaman dengannya
“Panggil Mbak aja ya”
“Iya Mbak”

Setelah acara tanya jawab mengenai bidang yang saya lamar dan bagaimana tanggapan dari perusahaan, akhirnya sampailah pada pertanyaan yang terakhir.

“Dulu apa pekerjaannya Edy?” tanya Fanny sambil menopangkan sebelah kakinya yang putih itu.

Duh cantiknya cewek ini, udah putih, cantik lagi seperti artis Mandarin di Hongkong itu, pikirku Kuperkirakan tingginya 170 cm/56 kg dengan pinggang yang langsing, pokoknya seksi deh..

NAGAQQ: Situs Judi QQ Online Domino99 Pkv Games Terpercaya dan Terakurat se Asia

“Sampai sekarang sih masih sebagai free guide” jawab saya jujur
“Maksudnya ?”
“Pemandu tour lepasan untuk turis domestik, begitu”
“Oh gitu, sebetulnya perusahaan ini membutuhkan orang yang berkualitas tinggi”
“Jadi maaf ya, Edy belum bisa memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan”
“Nggak apa-apa kok Mbak, saya bisa menerimanya”
“Oh ya, saya cuma sebentar di Lombok ini, kira-kira dua mingguan”
“Maksud Mbak ?” tanya saya nggak ngerti
“Kalo saya minta Edy menjadi tour guide saya selama dua minggu, berapa biayanya?”

“Terserah Mbak aja, pokoknya ditanggung puas deh jalan-jalan ke pulau Lombok” jawab saya senang, meskipun tidak dapat pekerjaan tapi ada order nih, cantik lagi..

“Besok ya, jam 09 00 di hotel Senggigi Beach, saya tunggu”
“Ya Mbak, pasti saya datang”
“Permisi Mbak”
“Ya, silakan” jawab Mbak Fanny mengantar saya keluar ruangan

Tepat jam 09 20 esoknya, saya sampai di hotel Senggigi Beach tempat Mbak Helen menginap.

“Selamat pagi Mbak, kamar Mbak Fanny yang mana ya?” tanya saya pada recepsionis hotel itu.
“Oh, Pak Edy ya, sudah ditunggu di lobi hotel sama Ibu Fanny”
“Terima kasih Mbak”
“Sama-sama”

Ternyata Mbak Fanny sudah menunggu di lobi dengan kaos ketat berwarna biru hingga samar-samar kelihatan payudaranya yang masih terbungkus BH menonjol di balik kaos gaulnya dan dipadu celana panjang jins, kelihatannya jauh sekali dari formalitas.

“Maaf Mbak, kelamaan nunggu ya?”
“Nggak apa-apa kok, tapi panggil Fanny aja ya”
“Ya Mbak E Eh Fanny”
“Edy, bisa nyopir khan?”
“Bisa emangnya kenapa”
“Tadi saya pinjam mobil kantor untuk jalan-jalan”
“Oh, bisa kok Mbak, jadi kita nggak perlu pake taksi”
“ Fanny pengen liat tempat gerabah dulu ya”
“Ya, ayo kita berangkat sekarang” ajak saya sambil menggandeng tangannya, rupanya Fanny tidak keberatan saya gandeng tanggannya yang putih mulus itu.

Pada jam 09 40 kami berangkat ke desa Banyumulek, tempat gerabah khas Lombok yang luarnya memakai anyaman rotan di luar kota Mataram. Setelah sampai, Helen membeli beberapa gerabah hingga jam 12 10 dan kami kembali lagi ke Mataram untuk makan siang.

“Terus mau kemana lagi Fanny?” tanya saya padanya dalam mobil yang akan menuju hotel.
“Temenin saya berenang yuk”
“Ayo, tapi saya nggak bawa baju renang nich”
“Ah, gampang nanti saya beliin, gimana?”
“OK boss”

Maka sampailah kami di hotel Senggigi Beach, ternyata kolam renang tidak begitu ramai dengan orang, cuma ada beberapa bule sedang berjemur.

“Tunggu di sini ya Edy, saya mau ganti baju dulu” celoteh Fanny sambil berlalu ke ruang ganti.

Setelah beberapa saat, wow Fanny sudah berganti dengan baju renang yang seksi sekali, berwarna putih selaras dengan kulitnya dan payudaranya menonjol dari balik baju renangnya

“Ayo Edy, kok bengong aja” katanya mengagetkan saya dan kami pun berenang di dalam kolam yang cukup besar itu.

Kami berenang sampai jam 17 10 sore dan lalu Fanny mengajak saya mengakhiri dulu acara renangnya.

“Sampai besok ya Edy”
“Ya, sampai besok Fanny” jawab saya sambil menelan ludah karena membayangkan betapa putih dan seksinya Helen memakai pakaian renangnya itu.

Beruntung sekali jika saya bisa memeluk atau bahkan making love dengannya Ah tapi itu cuma angan-angan saya saja untuk making love dengannya. Hari berikutnya saya antar Fanny ke pemandian alam Suranadi, tempat air awet muda di Narmada dan beberapa tempat wisata lainnya.

“Kita ke mall yuk” ajak Fanny sambil menggandeng tangan saya mesra bagai sepasang kekasih saja.

“Ada acara apa nich ke mall?” tanya saya sambil melirik Fanny yang duduk dengan santai dan seenaknya, bahkan kadang-kadang rok mininya memperlihatkan hampir separuh lebih pahanya yang putih mulus hingga si boy jadi tidak tenang, kapan ya bisa bergesekan dengannya, pasti sedap pikirku.

“Saya mau beli pakaian atas nich” jawabnya

Selama sepuluh hari berlalu, kami sudah menjadi akrab sekali Siang itu Fanny mengenakan kaos ketat putih bergambar panda yang dipadu dengan rok jins mini berwarna biru dengan sabuknya yang besar, saya tidak tahu apakah ini model baju gaul jaman sekarang atau kreasi Fanny sendiri
Mall itu sungguh ramai pada saat hari Minggu, hingga saya bisa menggandeng pinggang Fanny yang ramping itu dan wangi tubuhnya sungguh harum sekali. Rupanya Fanny tidak keberatan saya peluk pinggangnya Ini baru lumayan, pelan-pelan ada kesempatan nih....

“Kita cari baju yuk” ajaknya ke toko baju dalam mall tersebut
“Okey ”
“Ini bagus nggak Edy?” tanyanya sambil memperlihatkan hem merah
“Bagus juga kok Fanny, cobain aja” jawabku
“Iya deh” jawabnya sambil menuju ruang ganti

Tentu saja saya mengikutinya dan membantu menutup kain tempat mencoba baju itu, namun yang membuat saya berdebar-debar, ternyata ada celah sedikit untuk mengintip ruang ganti itu, mungkin saja Fanny tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.

Pertama-tama Fanny membuka kaos ketat warna putihnya hingga sekarang tampak kelihatan BH warna kuningnya yang sungguh indah, membuat si boy langsung berdiri. Kemudian ia mencoba hem merah itu dan ternyata pas sekali dengan bentuk tubuh Fanny. Setelah cocok dan membayar harganya, saya mengajak Fanny mencoba naik cidomo (semacam dokar yang ditarik oleh kuda), sedangkan mobil masih diparkir di Mall supaya aman.

“Gimana Fanny, rasanya naik cidomo?” tanya saya sambil memperhatikan rok mininya yang tadi agak tersingkap pada saat naik cidomo hingga kelihatan sedikit celana dalamnya yang berwarna putih polos Si boy langsung berdiri hingga celana jins saya jadi sesak.

“Lucu ya, naik cidomo begini”
“Ya, ini namanya kendaraan tradisional khas daerah sini”
“Oh, gitu ”

Setelah bolak balik naik cidomo, kami kembali ke hotel supaya Fanny bisa beristirahat.

“Edy, kamu tadi ngintip saya ya?” tanya Fanny tiba-tiba sambil menatap saya lekat.
“E Eh Ya Nggak sengaja kok” kata saya tergagap-gagap karena kaget bahwa Fanny tahu tadi saya memperhatikan wilayah pribadinya. Saya pasrah saja kalau akan dimaki atau bahkan diusir.
“Mmh Gitu ya”
“Maaf ya Fanny, saya nggak sengaja kok, kalo Fanny nggak suka saya bisa pergi sekarang kok” jawab saya sambil akan meninggalkannya
“Tunggu Edy, sebetulnya Fanny nggak apa-apa kok”
“Terima kasih kalo begitu” jawab saya yang tidak jadi meninggalkannya, bahkan sempat duduk di hadapannya kembali.
“Gimana badannya Fanny?” tanyanya lagi dengan antusias

Wah ada kesempatan lagi, saya ingin berusaha membujuk Fanny supaya mau making love dengan saya siang ini, paling-paling ditolak atau diusir, itu resikonya.

“Seksi sekali” jawabku
“Yang bener” tanyanya memastikan
“Abis bodinya Fanny seksi sich, rajin fitness ya”
“Iya, ini akibat latihan fitness”
“Edy, masuk kamar yuk, soalnya panas di luar” ajak Fanny tiba-tiba sambil menggandeng tangan saya masuk kamar kelas VIP itu, sungguh kamar yang bagus sekali.


Tiba-tiba HP Fanny berdering dan Fanny menjawab HP-nya sambil duduk di sofa . Wow.. sekarang dengan jelas sekali kelihatan CD-nya yang berwarna putih karena duduknya yang agak membuka kedua pahanya itu. Sungguh pemandangan yang indah sekali. Setelah Fanny menutup HP-nya, Fanny menatap saya dengan pandangan yang lain.

“Ada apa Fanny?” tanya saya sambil duduk di sampingnya.
“Mungkin satu atau dua hari lagi saya kembali ke Jakarta” jawabnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak saya.
“Lho, kok cepat sekali” tanya saya sambil mengelus pundak kirinya pelan
“Biasa, panggilan dari bos besar ” jawabnya sambil mengusap-ngusap paha kiri saya dengan mesra.
“Gimana kalo sekarang, Edy kasih hadiah”
“Hadiah apa, pasti asyik nih?” celoteh Fanny penasaran sambil menatap saya serius.
“Gimana, kalo hadiahnya berupa ciuman”
“Hush, ngawur kamu, khan udah kukasih liat” celotehnya sambil nyengir.
“Lho, ini khan ada rasanya” jawab saya nggak mau kalah sambil tangan kanan saya mengusap-usap pipinya yang putih mulus.
“Geli tau ” tolaknya manja.
“Lama-lama enak kok” rayu saya sambil mencium lehernya, bahkan menjilatinya sedikit demi sedikit supaya Fanny merasakan rangsangan.
“Jangan Edy.. Kamu Nakal ” sentak Fanny sambil mendorong tubuh saya, namun dorongannya malah membuat kami berdua jatuh ke sofa dengan posisi saya menindih Fanny.

Kesempatan itu tak saya sia-siakan karena langsung saja saya cium bibirnya yang merah basah. Beberapa saat Fanny masih memberontak lemah dan pergumulan itu semakin membuat tangan kanan saya menekan-nekan payudaranya yang masih terbungkus kaos dan tangan kiri saya memegang kepalanya

“Mmh ” guman Fanny karena mulutnya penuh oleh lidah saya yang berusaha membelitnya dan kembali ke lehernya yang putih bersih, terus menjilatinya dengan gemas.
“Sst Jann Ngan Sst ” celotehan dan sedikit rintihan Fanny membuat saya tahu bawah Fanny sekarang agak terangsang, dan perlawanannya sudah mulai semakin lemah.
“Aduh Sst Edy.. Pelan-pelan ” rintihnya sambil memegang tangan saya yang sedang meremas payudaranya.

Tangan saya kembali bergerilya ke bawah punggungnya dan berusaha melepas BH putihnya hingga akhirnya lepas juga. Dengan tiba-tiba BH itu disentak oleh Fanny sendiri hingga lepas ke lantai dan menarik kaosnya hingga ke atas Tampak jelas payudaranya yang putih mulus dengan putingnya yang sudah berdiri kencang.

“Edy.. Pakai kondom ya ?” pinta Fanny sambil meraba-raba si boy dengan pelan.
“Ya Fanny ” jawab saya sambil membuka kondom yang sudah saya persiapkan dari tadi. Fanny sekarang sudah melepas kaos ketatnya hingga tinggal tersisa rok mini dan CD putihnya.

“Tunggu Fanny, biar saya saja yang nanti melepasnya” cegah saya saat melihatnya akan membuka roknya dan sekarang saya juga sudah membuka pakaian dan celana panjang hingga bugil tinggal tersisa CD saja.

“Ini rahasia kita berdua lho” bisik Fanny sambil menatap saya tajam dan saya lihat di matanya ada keinginan yang terpendam dan sudah lama tak tersalurkan.

“Oke boss ” jawab saya sambil menciumnya dengan hangat dan disambut dengan gemas oleh Fanny, bahkan tangan saya dengan bebas meremas payudaranya yang kiri dan kanan secara bergantian. Kemudian ciuman saya turun ke payudaranya dan melumatnya, menghisap bahkan menggigit putingnya hingga Fanny merintih. Itu saya lakukan selama beberapa menit.

“Sst mmh terus sst ke bawah dikit sst ” pinta Fanny sambil merintih tidak karuan sambil mendorong kepala saya memintaku mencium dan menjilat pusarnya.


Tangan kanan saya juga aktif merayap pada pahanya dan semakin naik ke bawah hingga masuk ke dalam roknya dan menyentuh vaginanya yang terbungkus CD. Saya usap-usap beberapa menit, kemudian tangan saya masukkan ke dalam CD putihnya dan mengorek-ngorek lubang vaginanya hingga mengeluarkan cairan.

“Sst Edy... Aduh Geli Sst ” rintih Fanny sambil berusaha membuka roknya Karena birahinya sudah cukup tinggi. Saya bantu untuk membuka rok beserta CD-nya hingga Fanny bugil sama sekali dan kelihatan bodinya yang padat dan montok.

“Ayo Edy, buka juga dong, kok bengong ” pinta Fanny tidak sabar sambil membuka CD saya dan keluarlah si boy dengan tegaknya. Fanny sampai tercengang melihat si boy yang agak bengkok ini.

Bagaimana saya tidak bengong melihat cewek cantik putih mulus dan seksi di hadapan saya dengan ukuran payudara 34B ini. Kami sama-sama bugil sekarang dan saya mengambil posisi agak berjongkok untuk menghisap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus dan tercukur rapi, sedangkan Fanny tiduran di sofa sambil membuka pahanya agak lebar.

“Lho, kok bengong” tanya Fanny sambil membimbing kepalaku agar lebih dekat pada vaginanya.

“Ehh ” jawabku kaget tapi cuma sesaat karena berikutnya, vaginanya sudah saya jilat, yang pada awalnya baru pada bibir vagina dan lama-kelamaan pada lubang vaginanya mencari biji kacangnya serta menghisapnya lebih keras, bahkan bulu-bulu halusnya juga ikut tersapu dengan jilatan dan hisapan saya.

“Sst Oh Yes Sst Mmh ” rintih Fanny panjang sambil menggerakkan pinggulnya ke atas sampai wajah saya terbenam semua dalam permukaan vaginanya. Sementara tangan kiri saya meremas-remas payudaranya silih berganti dengan dibantu tangan Fanny sendiri.

“Sst Teru Ss Edy Sstss Mmh Sst Saya Keluar.. Arkh ” jerit Fanny karena dengan tiba-tiba menjepit kepala saya dengan kedua pahanya.

Rupanya Fanny telah mengalami orgasmenya yang pertama sejak making love karena saya tahu begitu banyak cairannya yang keluar.

“ Fanny, mau nggak isep si boy?” tanya saya menghentikan gerakan menghisap cairan vaginanya sambil menyodorkan si boy padanya.
“Mmh Gimana ya, Fanny belum pernah tuch” jawabnya gengsi karena mungkin Fanny memang belum pernah menghisap kemaluan cowok.

“Gini, kuajarin, Fanny lumat aja dan jilat dulu kepalanya ya” bujuk saya sambil membimbing Fanny duduk di sofa dan saya berdiri di hadapannya mengulurkan kontol. Tangan kanannya saya arahkan untuk memegang kontol saya dan memintanya mengocok pelan.

“Begini ya ?” tanya Fanny sambil mengocok kontol saya pelan dan mengurutnya hingga si boy semakin keras saja.

Rupanya si Fanny cepat belajarnya dan saya semakin menikmati making love ini.

“Bagus Sekarang kulum Fanny Sst Ya Gitu ” pinta saya lirih karena dengan cepatnya Fanny mengulum kepala kontol saya dan semakin lama semakin ke dalam hingga kontol saya sampai masuk semua pada mulutnya, bahkan kadang-kadang tanpa diminta, Fanny menjilati buah zakar saya tanpa jijik dan kembali mengulum dan menghisap kontol saya dengan irama yang kadang cepat kadang pelan.


“Sst Udah Fanny Cukup ” pinta saya karena sudah tidak kuat menahan hisapan Fanny yang semakin lama semakin liar saja.
“Ayo Edy, Fanny udah nggak tahan nich ” jawab Fanny sambil memasangkan kondom pada kontol saya.

Kemudian Fanny rebah telentang lagi di sofa dengan masih memegang kontolku yang sudah memakai kondom dan mengarahkannya pada bibir vaginanya. Kontol saya gesek-gesekkan dulu pada bibir vaginanya untuk pemanasan hingga membuat Helen mendesis kegelian.

“Sst Geli Edy... Udah masukin aja ”
“Auwh Sst Pelan Sst ” jerit Fanny karena kepala kontol saya sudah masuk setengah pada vaginanya dan akhirnya masuk semua dalam vaginanya.

“Sst Aduh Mmh Sstss ” rintih Fanny begitu kontol saya masuk semua dan menggoyangkan pinggulnya dengan pelan. Saya juga memompa kontol saya keluar masuk vaginanya dengan perlahan dan semakin lama makin cepat.

“Sst Edy... Mmh Sst cepetan Sst ” pinta Fanny pada saya karena saya memperlambat sodokan kontol saya.
“Mmh Nah Gitu Terus Ssttss ”

“Fanny... enak Nggak Sst ?” tanya saya tersengal-sengal karena Fanny semakin aktif memutar-mutar pinggulnya, bahkan tangan kanannya memegang pantat saya dan menekannya dengan keras hingga kontol saya semakin dalam masuk ke vaginanya.

“Sstss Enak Edy Sstt ” jawabnya lirih karena kedua tangan saya silih berganti meremas payudaranya yang kadang-kadang saya isap puting susunya bergantian.

“Sstssrtt Udah Edy... Keluarin Samaan Sst ” pinta Fanny yang rupanya sudah tidak tahan pada sodokan kontol saya yang keluar masuk makin cepat diimbangi pula dengan cepatnya goyangan pinggul Fanny.
“Iya..Fanny Sst ” desis saya lirih karena saya dengan kuat juga diputar-diputar oleh pinggul Fanny yang kencang itu hingga kontol saya rasanya senut-senut dijepit oleh vaginanya.

Beberapa puluh menit saya dan Fanny melakukan making love itu dengan bersemangat hingga kepala Fanny menoleh ke kiri-ke kanan tak beraturan. Rupanya pertahanan saya sudah akan bobol dan akhirnya saya memberi aba-aba pada Fanny disertai dengan pelukan Fanny yang makin kencang.


“Sst Ayo.. Fanny Sst ”
“Ssrtrrsst Arkhkk ” jerit Fanny melengking sambil menjepit kontol saya dengan erat, disertai sodokan kontolku yang makin cepat dan akhirnya.

Crot... croot... croot... Tiga kali tembakan saya muntahkan dalam vaginanya tapi masih di dalam kondom. Fanny akhirnya lunglai sambil memeluk saya dengan hangat.

“Hahh Lega rasanya ”
“Gimana rasanya Fanny?” tanya saya sambil membelai rambutnya yang harum itu.
“Enak gila” jawabnya sambil tersenyum.

Selama dua hari sejak kejadian itu saya sering melakukan making love dengan Fanny, bahkan sering Fanny yang memulai lebih dulu. Akhirnya pada hari terakhir saya mengantar Fanny ke bandara Selaparang Hari masih pagi kira-kira jam 05.25, karena pesawatnya akan berangkat jam 07.00. Mungkin Fanny masih ingin curhat pada saya mengenai beberapa hal.

“Wah, masih sepi ya ”
“Iya Fanny, baru kita aja yang datang, tapi nggak apalah, kita khan bisa ngobrol” jawab saya santai.
“Iya, ya”

Pagi itu Fanny mengenakan hem yang baru dibelinya dan dipadu dengan rok jins mini kesukaannya yang berwarna putih. Setelah mengobrol sekitar lima belas menit, Fanny kelihatannya gelisah dan mengajak saya ke toilet wanita.

“Saya tunggu di sini ya”
“Udah ayo masuk, mumpung nggak ada orang” pinta Fanny sambil menggandeng tangan saya masuk ke toilet wanita itu.

Lalu kami masuk ke kamar mandi di pojok yang kosong. Gila juga Fanny, nanti kalau ada yang tahu bagaimana, pikirku. Belum sempat saya berpikir panjang, Fanny sudah melepas celana dalamnya yang berwarna merah dan mendorong saya duduk di atas toilet modern itu.

“Eh Fanny Gimana kalo ada orang nich” jawab saya bingung, tapi akhirnya saya lepas juga celana jins beserta CD saya hingga si boy nongol dengan tegaknya.
“Sst Udah diam aja kamu” jawab Fanny sambil meremas kontol saya hingga tegak sempurna.
“Tapi belum pake kondom nich”
“Nggak usah, Fanny pengen yang original, ayo... ” pintanya sambil mengarahkan kontol saya pada vaginanya.

Saya juga membantunya dengan memegang pantatnya hingga masuk semua kontol saya pada vaginanya. Posisi saya yang duduk memangku Fanny dan Fanny berhadapan dengan saya mengakibatkan tekanan vaginanya lebih terasa.


“Sst Edy... Ayo Cepetan Sst ”
“Iya ” jawab saya sambil dengan cepat menyodokkan kontol keluar masuk vaginanya.

Untung saja pagi itu belum ramai oleh penumpang dan toilet itu belum ada yang mendatanginya hingga Fanny dan saya bisa making love dengan nikmat yang bercampur dengan perasaan berdebar-debar.

“Sst Sayang Cepet Ssrrtt ” rintih Fanny sambil menggoyang pinggulnya dengan liar.
“Sst Mmhmm Ssrttss ” desisnya.

“ Fanny Sst ” desis saya lirih sambil tangan saya melepas kancing hemnya dan masuk ke dalam BH-nya serta meremas payudaranya dengan pelan, bahkan kadang-kadang saya cium juga bibirnya yang merah basah dengan gemas, yang dibalasnya dengan ciuman yang liar juga.

“Ssrtss Ssttrtss ” rintih Fanny pelan sambil mempercepat goyangan pinggulnya.

Dan akhirnya kegiatan yang berlangsung kurang lebih 40 menit itu saya akhiri dengan mempercepat sodokan kontol saya dengan cepat hingga akhirnya muncratlah lahar putih saya dalam vaginanya dengan keras tanpa penghalang kondom.

“Sst Arkhkk ” jerit Fanny sambil memeluk saya dengan erat karena bersamaan dengan keluarnya lahar putih saya, juga keluar lahar putih dari Fanny. Hingga beberapa saat saya dan Fanny masih menikmati sensasi making love itu dengan berciuman lembut.

“Trim’s ya Edy ”

“Sama-sama Fanny, kapan-kapan main-main ke Lombok dan making love lagi ya” jawab saya sambil membereskan celana dan baju, begitu pula dengan Fanny yang mengganti celana dalamnya dengan yang berwarna hijau lumut

Setelah rapi saya dan Fanny keluar toilet untuk mengobrol lagi menunggu pesawat yang masih belum berangkat juga. Beberapa saat kemudian baru Fanny berangkat ke Jakarta dengan membawa dan meninggalkan sejuta kenangan akibat making love denganku

Selamat jalan Fanny, terima kasih atas amplop dan kenangan making love nya serta ijinmu agar saya bisa mengirimkan cerita pengalaman kita berdua ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Della Penyanyi Cafe Yang Menggoda

Pengalaman Seks Dengan Ibu Temenku

Percintaanku Berawal dari Guru Private